Selain Batak, masyarakat dengan suku lain semisal Jawa, Tionghoa, dan lainnya kerap datang. Namun, saat ini perhatian terhadap situs Keramat Kubah dominan datang dari warga Tionghoa.
"Semua suku datang kemari. Biasanya hari-hari besar. Hari besar warga etnis Tionghoa.
Baca Juga:
4 Tips Bagi Traveling yang Minim Budget
Kalau yang bermarga biasanya jelang tahun baru. Ada juga (Caleg) datang bernazar. Artinya ini dia meminta doa, juga oppung di sini juga mendoakan," katanya.
Lanjutnya, tak ada cara doa yang baku. Semua bergantung dari orang-orang yang datang dengan kebudayaannya masing-masing.
"Beda suku, beda budaya, beda tata cara yang diyakini. Kalau Tionghoa pakai dupa, Batak pakai sirih, Jawa pakai bunga dan sebagainya," katanya.
Baca Juga:
Jembatan Kaca di Waduk Gajah Mungkur Dibuka Saat Lebaran, Cek Jam Operasional dan Harga Tiket
Kesan yang dirasakan dari Keramat Kubah sendiri seakan teduh. Lokasinya dikelilingi pepohonan dan dapat ditemui kehadiran puluhan monyet ekor panjang yang selalu menyambut para pendatang.
Di kalangan masyarakat Perdagangan sendiri, nama lain dari Keramat Kubah disebut pula Keramat Kubah Pandan atau Keramat Monyet.[bgr]