Simalungun.WahanaNews.co - Sejak dahulu, fenomena tongkrongan sudah menjadi hal yang umum. Selain digunakan untuk tujuan bisnis, masyarakat Indonesia juga memanfaatkannya sebagai sarana relaksasi.
Ketika ditemui oleh WahanaNews di salah satu tempat tongkrongan di tengah kota perdagangan pada Sabtu (16/12) sekitar pukul 17.00 WIB, Anata, pemilik salah satu tokoh Pemuda di Kecamatan Bandar Anata OkiNawa Sibagariang, menjelaskan bahwa tujuan dari tongkrongan bisa berbeda tergantung kebiasaan atau tradisi masing-masing daerah.
Baca Juga:
Reputasi Konservasi Alam, Hotel Bumi Wiyata Komitmen Bayar 2 Tahun Tunggakan PBB
"Fenomena tongkrong yang ada saat ini, seperti kedai kopi di Kota Perdagangan, warung kopi di pulau Jawa, dan tempat tongkrong lainnya, memiliki banyak perbedaan dengan yang terjadi pada zaman dulu," katanya.
Menurut Anata, ada beberapa perbedaan yang terletak pada aspek sajian, interior, dan hiburan yang disediakan oleh kafe atau tempat nongkrong lainnya. Durasi waktu tongkrongan pun bisa berlangsung selama 24 jam.
"Ini bentuk lain, sebenarnya ada juga kita tradisi itu," ungkapnya.
Baca Juga:
BPN Kota Depok Mediasi Sengketa Lelang Lahan Achmadi dengan BPR Olympindo Sejahtera
Namun, sayangnya, Anata mengatakan bahwa kegiatan tongkrongan belakangan ini seperti menjadi momok, lantaran orang-orang yang melakukannya seakan dibuat terbuai dan menghabiskan banyak waktu tanpa melakukan kegiatan yang bermanfaat. Anata juga merasa bahwa tongkrongan zaman dulu lebih menyenangkan karena bermain gitar, dan sekarang umumnya sudah jarang dilakukan dan digantikan dengan aktivitas karaoke.
"Menurut saya, zaman dulu lebih asik," pungkasnya.
[Redaktur : Hadi Kurniawan]